TDCTF Academy Logo TDCTF ACADEMY

Vulnerability Scanning

Apa itu Vulnerability Scanning?

Vulnerability scanning adalah proses otomatis untuk mengidentifikasi, mengklasifikasikan, dan melaporkan kerentanan keamanan pada sistem, jaringan, dan aplikasi. Proses ini merupakan komponen fundamental dalam manajemen kerentanan (vulnerability management) yang memungkinkan organisasi menemukan celah keamanan sebelum dieksploitasi oleh penyerang.

Jenis-Jenis Vulnerability Scanning

Authenticated vs Unauthenticated Scanning

  • Authenticated Scanning - Scanner diberikan kredensial (username dan password) untuk mengakses sistem target secara langsung. Dengan akses ini, scanner dapat melakukan pemeriksaan mendalam seperti konfigurasi registry, patch level OS, service pack, dan file konfigurasi aplikasi. Hasilnya lebih akurat dengan false positive yang lebih rendah. Cocok untuk environment production yang membutuhkan akurasi tinggi.

  • Unauthenticated Scanning - Scanner bekerja dari perspektif penyerang eksternal tanpa kredensial apapun. Hanya memindai port, service banner, dan celah yang terlihat dari luar. Memberikan gambaran tentang apa yang bisa dilihat dan dieksploitasi oleh penyerang tanpa akses internal. False positive cenderung lebih tinggi dibanding authenticated scan.

External vs Internal Scanning

  • External Scanning - Dilakukan dari luar jaringan organisasi (internet) untuk mengidentifikasi kerentanan pada aset yang terekspos ke publik seperti web server, mail server, firewall, VPN, dan aplikasi berbasis cloud. Tujuannya adalah mensimulasikan serangan dari penyerang eksternal.

  • Internal Scanning - Dilakukan dari dalam jaringan untuk mengidentifikasi kerentanan pada aset internal seperti workstation, server internal, database, dan perangkat jaringan internal. Mendeteksi risiko dari ancaman insider atau lateral movement setelah terjadi breach.

Passive vs Active Scanning

  • Passive Scanning - Memonitor lalu lintas jaringan tanpa mengirimkan paket apapun ke target. Menganalisis header, banner, dan metadata dari traffic yang lewat. Tidak berisiko mengganggu sistem produksi namun cakupan informasinya terbatas.

  • Active Scanning - Mengirimkan probe, paket, dan payload tertentu ke target untuk memicu respons yang mengungkap informasi kerentanan. Lebih komprehensif, namun berpotensi menyebabkan denial of service pada sistem yang rapuh.

Tools Vulnerability Scanning

Tool Deskripsi
Nessus Scanner komersial dari Tenable. Sangat populer dengan plugin library yang luas, mendukung authenticated scan, compliance scanning, dan reporting yang komprehensif.
OpenVAS / GVM Scanner open-source (fork dari Nessus). Bagian dari Greenbone Vulnerability Management. Gratis dan cukup powerful untuk中小 organisasi.
Qualys Platform berbasis cloud (SaaS). Tidak perlu infrastruktur scanner lokal. Cocok untuk asset management dan continuous monitoring skala enterprise.
Nexpose / InsightVM Produk dari Rapid7. Terintegrasi dengan Metasploit untuk validasi eksploitasi. Mendukung real-time risk scoring dan prioritization.
Nuclei Scanner berbasis YAML template dari ProjectDiscovery. Cepat, extensible, dan banyak digunakan untuk CI/CD security testing. Template berbasis komunitas sangat aktif.

Scan Policy dan Scheduling

Scan Policy mendefinisikan bagaimana scanner berperilaku: port range yang dipindai, intensitas scanning (normal vs agresif), plugin atau template yang digunakan, plugin performance settings, dan opsi safe checks untuk menghindari downtime.

Scheduling menentukan kapan scan dijalankan: full scan mingguan di luar jam sibuk, incremental scan harian untuk perubahan cepat, dan on-demand scan setelah perubahan infrastruktur signifikan atau insiden keamanan.

Scope Definition dan False Positive Handling

Scope Definition adalah proses menentukan apa yang dipindai: IP range, hostname, subnet, port tertentu, dan eksklusi sistem kritis yang tidak boleh terganggu. Scope harus didokumentasikan dan disetujui oleh pemilik aset.

False Positive Handling - Tidak semua temuan scanner adalah kerentanan nyata. False positive harus diverifikasi secara manual atau melalui tools validasi (seperti Metasploit atau exploitation frameworks). Hasil verifikasi digunakan untuk tuning scanner melalui whitelisting, policy adjustment, atau plugin disable.

Credentialed Scanning

Credentialed scanning memberikan akses istimewa ke sistem target menggunakan SSH key (Linux/Unix) atau Windows credentials (domain admin atau lokal). Keuntungannya: deteksi missing patch yang lebih akurat, audit konfigurasi keamanan, deteksi malware dan registry changes, serta kemampuan compliance scanning (CIS, PCI DSS, HIPAA). Risiko utamanya adalah credentials harus disimpan dengan aman (vault atau secrets manager) dan dirotasi secara berkala.

Kesimpulan

Vulnerability scanning adalah fondasi program manajemen kerentanan yang efektif. Kombinasi authenticated scanning untuk akurasi tinggi, unauthenticated scanning untuk perspektif attacker, serta pemilihan tools dan kebijakan yang tepat akan memberikan visibilitas komprehensif terhadap postur keamanan organisasi.

PADA HALAMAN INI