Asset Inventory
Definisi Aset TI
Asset Inventory atau inventarisasi aset TI adalah proses pencatatan, pengelompokan, dan pemeliharaan daftar seluruh aset teknologi informasi dalam suatu organisasi. Aset TI mencakup spektrum luas yang secara umum dikategorikan menjadi:
- Hardware - Perangkat fisik seperti server, workstation, laptop, router, switch, firewall, printer, dan perangkat mobile. Setiap perangkat memiliki masa pakai, garansi, dan posisi fisik yang perlu dilacak.
- Software - Aplikasi, sistem operasi, database, middleware, dan lisensi perangkat lunak. Inventaris software mencakup versi, tingkat patch, dan status lisensi untuk menghindari penggunaan ilegal atau usang.
- Data - File, basis data, backup, dan dokumen digital. Data merupakan aset paling bernilai dan memerlukan pelacakan lokasi penyimpanan, tingkat sensitivitas, dan kebijakan retensi.
- Network - Infrastruktur jaringan seperti VLAN, subnet, IP address, DNS zone, sertifikat TLS, dan perangkat jaringan virtual.
- Cloud - Resource pada penyedia cloud publik (AWS EC2, Azure VM, GCP Compute Engine), container, serverless functions, object storage (S3, Blob, Cloud Storage), dan managed services.
Discovery Tools
Untuk membangun dan memelihara asset inventory, organisasi menggunakan berbagai alat discovery:
| Kategori | Tools | Metode |
|---|---|---|
| Network Scanning | Nmap, Masscan, Zmap | Port scan, OS fingerprinting, service detection |
| SNMP-based | SNMP Walk, SolarWinds, PRTG | Query MIB dari perangkat jaringan |
| Active Directory | AD Scanner, BloodHound, PingCastle | Query domain controller untuk daftar komputer dan pengguna |
| Cloud Inventory | AWS Config, AWS Resource Explorer, Azure Resource Graph, GCP Asset Inventory | API cloud provider untuk mencantumkan semua resource |
Alat-alat ini dapat dijalankan secara agent-based (menginstall agen pada setiap host) atau agentless (mengakses host dari jarak jauh melalui API/SSH/WMI).
CMDB dan ITAM
CMDB (Configuration Management Database) adalah repositori yang menyimpan informasi tentang Configuration Items (CI) dan relasi antar-CI. CMDB tidak hanya mencatat "apa yang dimiliki" tetapi juga "bagaimana keterkaitannya" - misalnya, aplikasi X berjalan di server Y yang terhubung ke switch Z.
ITAM (IT Asset Management) berfokus pada siklus hidup aset: pengadaan, deployment, pemeliharaan, hingga disposal. ITAM mengelola aspek finansial dan kontraktual, sedangkan CMDB mengelola aspek teknis dan relasional.
Tools populer meliputi ServiceNow CMDB, BMC Helix, dan OTRS.
Inventory Fields
Setiap entri asset inventory minimal harus memiliki field berikut:
| Field | Deskripsi | Contoh |
|---|---|---|
| Hostname | Nama unik perangkat | srv-web-prod-01 |
| IP Address | Alamat IP (IPv4/IPv6) | 10.1.20.15 |
| OS | Sistem operasi dan versi | Ubuntu 22.04 LTS |
| Software | Aplikasi terinstal dan versi | Nginx 1.24, OpenSSH 9.0 |
| Owner | Penanggung jawab / unit | Tim Infrastruktur |
| Location | Lokasi fisik atau virtual | DC-Jakarta-Rack12 |
Field tambahan: MAC address, serial number, tanggal pembelian, tanggal EOL/EOS, status (active/retired), kategori (production/staging/dev), dan tag keamanan.
Agent vs Agentless
Agent-based: Memasang perangkat lunak agen pada setiap host. Kelebihan - data lebih detail (proses berjalan, koneksi jaringan, patch level), dapat berfungsi di lingkungan offline/air-gapped. Kekurangan - beban manajemen agen, overhead resource, dan potensi konflik aplikasi.
Agentless: Discovery dari jarak jauh via SSH, WinRM, WMI, SNMP, atau API cloud. Kelebihan - tanpa instalasi, lebih cepat di-deploy, beban minimal. Kekurangan - memerlukan kredensial dan konektivitas, data terbatas pada yang diekspos oleh protokol.
Praktik terbaik mengadopsi pendekatan hibrida: agentless untuk discovery awal dan lingkungan transient (container, serverless), agent-based untuk monitoring berkelanjutan pada aset tetap.
Asset inventory yang akurat dan terkini adalah fondasi dari setiap program vulnerability management dan keamanan siber.